Pertemuan Ketua MPK se Indonesia dengan MNPK
Minggu, 26 – Senin, 27 Pebruari 2012
Guadelupe, Durensawit Jakarta
Agenda Pertemuan:
1.     Permasalahan Legalitas Yayasan Pendidikan
2.     Informasi Peraturan Perundang-undangan antara lain Permendibud N0.60 Tahun 2011 Tentang Larangan Pungutan di SD dan SMP; Permenpan
3.     Permasalahan Yayasan dan Sekolah Terkait RENSTRA MNPK, meliputi Pengembangan empat Bidang
4.     Konsolidasi Organisasi MPK-MPK
5.     Program Kegiatan MNPK 2012
6.     Penting dan Manfaat Data base yayasan dan sekolah
7.     Persiapan RAKERNAS II MNPK 2012 DI Timika Papua
NOTULEN PERTEMUANÂ tanggal 26 Februari 2012
Presensi : lembar tersendiri.
1.      LEGALITAS YAYASAN
Â
 Paparan Romo Karolus Jande, pr mengenai beberapa hal yang terkait dengan bidang hukum :
1.   Legalitas Yayasan Pendidikan tentang permasalahan penyesuaian AD Yayasan terhadap UU Yayasan
2.   Permendikbudnas No.60 Tahun 2011 tentang larangan pungutan di SD dan SMP.
Â
 Mengenai Legalitas Yayasan :
Bila banyak Yayasan belum menyesuaikan AD maka MNPK bersama BMPS akan mengusulkan ke Kemenhukamnas:  Â
a. Pemutihan Yayasan yang belum urus penyesuaian AD terhadap UU Yayasan
b. Pengunduran waktu deadline   penyesuaian AD Yayasan terhadap UU
c. Pembatalan PP no.63 Tahun tentang Yayasan, dengan mengajukannya ke Mahkamah Agung
Â
MNPK telah melakukan apa?Â
MNPK telahmensosialisasikan permasalahan penyesuaian AD Yayasan terhadap UU Yayasan sejak tahun 2007. Persoalannya, apakah MPK meneruskan hal itu kepada Yayasan anggotanya? Bila Yayasan minta pemutihan , pengunduran waktu atau pembatalan PP tentang Yayasan, tanpa bukti tidak mungkin. Bila ada bukti bahwa banyak Yayasan belum menyesuaikan AD Yayasan terhadap UU Yayasan, maka MNPK tidak mungkin berjuang sendiri, karena tidak akan digubris. MNPK akan berjuang bersama Badan Musyawarah perguruan Swasta (BMPS) dan Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABPPTSI).
Karena itu langkah kita dalam hal ini, MPK menghimbau yayasan anggotanya segera mengurus hal ini. Selanjutnya, dalam rangka penyelesaian masalah ini, apakah mau mengurus sendiri sampai ke Kemendiknas via aktenotaris yang ada di setiap kota atau urus secara kolektif? Bila urus secara kolektif, tahap pertama, lapor ke MPK lengkap dengan bukti, tahap kedua MPK lapor MNPK disertai bukti; tahap ketiga MNPK bergabung dengan BMPS dan ABPTTSI, Tahap terakhir ke Kemenhamkumnas.Â
Pertanyaannya , apakah MPK sudah tahu semua Yayasan di areanya? Apa yayasan anggota MPK Keuskupan ditempat masing-masing Sudah punya AD? Masalah legalitas yayasan itu sendiri, apakah ADnya sudah menyesuaikan diri dengan UU Yayasan?
a.     Rm. Totok (Medan) Â
Yayasan yang belum menyesuaikan AD maka harus melengkapi dan dibantu untuk dibuatkan legalitasnya. Ada sekolah (Pekan Baru) yang berpusat di Medan. Sekolah ini sudah disetujui oleh masyarakat dan Pemerintah, belum ada legalitasnya, ada masalah Ninik mamak dan tokoh di sekolah SD Negeri merasa disaingi karena muridnya tersedot ke sekolah Katolik yang baru, Bupati baru membantu tokoh2 itu.
b.     Pak Gerardus (Maumere)
MPK Keuskupan Maumere ada 14 yayasan, masih ada 3 yayasan yang masih diurus. Bagaimana MNPK memposisikan yayasan yang belum bergabung dengan MPK Keuskupan karna lokasinya di lain daerah
c.      Rm. Edu Jebarus, Pr (Larantuka)
Keuskupan Larantuka ada puluhan yayasan dari awan dan gereja, ada yang punya akte notaris yang belum disetujui oleh Kemenhumkamnas. Ada jenis sekolah yang pakai payung hukum yayasan namun tak mau tunduk aturan. Kesulitan lain ada yayasan yang punya akte tapi belum tuntas, yang banyak di Larantuka. Berkaitan dengan Peraturan Kemenpan tentang Guru PNS harus mengajar di Sekolah Negeri, Guru2 dengan status PNS yang dipekerjakan di sekolah swasta kesulitan berhadapan dengan pihak pemerintah, karena  guru-guru PNS tersebut ditarik dari sekolah swasta.
d.     Rm. Rudi Pr (Kupang)
Keuskupan Kupang ada 14 yayasan yang ada, 12 yayasan belum ada legalitasnya. Saat ini yayasan tersebtu merasa aman-aman saja. Sekembali dari pertemuan ini, kami akan mengumpulkan yayasan pendidikan Katolik di keuskupan Kupang, kami Perlu diinfokan permasalahan ini.
Â
Â
e.     Pak Vinsen Loe (Atambua)
Keuskupana Atambua ada 9 yayasan yang baru bergabung dgn MPK. Belum tahu apakah yayasan itu sudah menyesuaikan ADnya? Persoalan menggelisahkan sekolah swasta sekarang ini ialah pemberlakuan Peraturan Kemenpan tentang guru PNS yang harus kembali mengajar di sekolah Negari. Guru-guru PNS yang ditempatkan di sekolah-sekolah Katolik (90%), jika guru dicabut akan bahaya, sekolah ditutup, bagaimana menyikapi hal ini?
f.       Rm. Alex Lette (Makasar)
Keuskupan Agung Makasar ada 4 yayasan yang sah, ada aktenya (sudah menyesuaikan AD). Ada beberapa yayasan yang belum sah? Yang belum sah ini ke depan bagaimana?Â
g.     Bambang (Sorong)
Keuskupan Manowari Sorong ada 7 yayasan yang sudah ok, telah menyesuaikan AD, selama ini belum membayar pakai NPWP!
h.     Rm Pri CM (Banjarmasin)
Keuskupan Banjaramasin ada 79 SD, 13 SMP, ada 3 yayasan yang sudah ok (sudah menyesuaikan AD)Â Â
i.       Sr. Marietta SFS (Bogor)
Ada 12 yayasan, yang sudah punya legalitas baru 2 yayasan, lainnya baru diproses. Ada yayasan yang belum mengurus penyesuaiana Adnya.
j.       Rm. Tetra CM (Surabaya)
Semua yayasan sudah menyesusaikan diri untuk mendapatkan legalitas. Namun hal ini perlu di data lagi.
k.     Rm Agus Pr (Ambon)
Perlu diurus sekarang dan masih bisa, selama ini di Ambon beaya Akte ke Notaris sekitar 5 jt.
l.       Pak Pardi (Jakarta)
1.           Mencari akar masalah, pembina tak mau tahu, perlu penyuluhan untuk tata kelola yayasan
2.           MPK segera mendata dan menindaklanjuti. Di jakarta ada 70 yayasan yang sudah ok dan 30 an yang belum.
Jawaban Rm. Karel Jande :
Perlu data-data yang jelas, sudah diurus sampai di mana, apa sudah diurus sampai kemenhukamnas dan sudah ada jawaban. Yang belum diurus harus diurus, segeralah diurus sebelum vonis pembubaran dan dinyatakan likuidasi; Jika tak diselesaikannya maka Yayasan itu harus dibubarkan,  dan bila masih mau terus, harus membuat yayasan baru. Oleh karena itu :
1.      MPK perlu segera mendata Yayasan yang sudah menyesuaikan AD atau belum punya (AD) aktenya.
2.      Yayasan dalam keuskupan itu artinya dalam Reksa Pastoral Keuskupan dan wajib ikut dlm MPK, bila tidak maka lapor ke keuskupan, agar ditegur apakan yayasan dan sekolahnya masih mau ada di dalam keuskupan tersebut atau tidak?
m.   Rm. Benjamin Seran Pr (Atambua):
Perlu dibuat rekomendasi dari MNPK, apa yang perlu dilakukan?
2. Â Â Peraturan pemerintah No. 60 Tahun 2011
Tentang larangan pungutan biaya pendidikan pada Sekolah Dasar dan SMP. Foto copy Permendikbud tersebut sudah dibagikan. Dan penjelasan tentang hal itu sudah disampaikan. Sekarang minta tanggapan dari peserta pertemuan.
Inti PP tsb, karena Pemerintah telah mengucurkan Dana BOS kepada sekolah SD dan SMP maka sekolah dilarang melakukan pungutan. Persoalannya, apakah penerimaan dana BOSS tersebut sepengetahuan yayasan dan dipakai untuk biaya pendidikan sekolah? Apakah BOSS itu cukup untuk biaya (Investasi, opersional dan personal) sekolah Swasta?
3.      Mengenai Kemen PAN
Kementerian Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB) bersama Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) mengkaji ulang rencana penarikan terhadap guru-guru pegawai negeri sipil (PNS) yang bertugas di sekolah swasta. Karena Kebijakan itu menuai protes dan memicu polemik. Kebijakan pendistribusian guru negeri untuk bertugas di sekolah swasta merupakan amanat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 1981 tentang Pemberian Bantuan kepada Sekolah Swasta. "Kemen PAN tak bisa memaksa. "Sesuai otonomi daerah, kepala daerah berwenang menarik (guru PNS di sekolah swasta, Red)," tutur Formasi Deputi SDM Aparatur Kemen PAN Sukardiono. Kemen PAN hanya memastikan, sementara tidak dikeluarkan surat edaran yang menginstruksi penarikan guru PNS di sekolah swasta.
Karena itu MNPK menghimbau, daerah kabupaten mana yang telah melakukan penarikan PNS dari sekolah swasta, atau menghambatan proses urusan naik pangkat PNS yang dikaryakan di sekolah swasta, tolong MPK setempat mendata, kabupaten mana dan sekolah serta berapa banyak PNSnya,  agar MNPK bisa meneruskan hal ini ke pihak yang berwewenang.
Â
Â
Pak Gerardus (Maumere):
Perlu ditegaskan, pemerintah wajib untuk membantu biaya sekolah. Yayasan-yayasan vial MPK perlu menjelaskan hal itu kepada pemerintah daerah. Persoalan yang sangat riskan dan menggelisakan yayasan ialah penarikan Tenaga guru PNS di NTT yang banyak bekerja di yayasan, jika ditarik bagaimana? Pasti sekolah milik yayasan akan mati, bagaimana kita bersikap?
Fr. Fred Pr (Manado) :
Banyak yayasan yang resah dengan PerMendikbudnas ini dan mematikan eksistensi yayasan. MNPK perlu mengkaji hal ini lebih dalam. Kita Perlu mengadakan MOU dengan pemerintah Pusat dan Daerah agar pemerintah terus memperhatikan hal ini. Hal ini sangat mengkuatir sekolah dan Yayasan. Kita perlu bicarakan hal ini secara serius, misalnya buat seminar nasional dan undang pemerintah mempertanggungjawabkan hal ini.
Rm Edu (Larantuka) :
Untuk MPK Keuskupan Larantaka , kami telah mengadakan komunikasi dan penyadaran kepada pihak pemeritah akan kewajiban mereka untuk membantu sekolah swasta katolik. Apalagi pemerintahnya tamatan sekolah swasta katolik. Karena itu selalu kewajiban tugasnya sebagai pemerintah, juga kewajiban moralnya, balas jasa kepada sekolah swasta katolik. Hal ini dimungkinkan karena ketua MPK sekaligus Komisi Pendidikan Keuskupan berada dalam tangan seorang pastor, sehingga di satu pihak oknum pemerintah, di lain pihak dia adalah umat. Sehingga pandangan seorang Pastor dianggap sebagai nasehat rohani, yang sulit dibantah!
Pak Bambang (Manokwari Sorong):
Sekolah swasta di Papua pada umumnya, ada dilema dengan Peraturan ini. Sekolah yang telah menerima BOSS, orangtua siswa tak mampu membiaya pendidikan anaknya mengganggap BOSS dan peraturan ini sebagai “gratis, anugerah, sehingga mereka tidak perlu lagi memikirkan biaya pendidikan anaknya. Bila sekolah masih meminta biaya dari orang tua, mereka protes dan marah dan bahkan orang tua yang mampu pun tak mau bayar dana pendidikan.
Bu Sherly (Bandung) :
Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung merasa bahwa beberapa sekolah swasta telah memberikan prestasi yang baik. Tidak mengherankan apabila sekolah-sekolah ini mendapat kepercayaan dari masyarakat sehingga para orang tua mendaftarkan putra-putrinya di sekolah tersebut. Apabila masyarakat memberi kepercayaan kepada sekolah swasta, sudah sepantasnya Dinas Pendidikan juga memberikan kepercayaan kepada sekolah-sekolah swasta tersebut. Sekolah swasta dapat mengatur sendiri anggarannya, asalkan dapat dipertanggungjawabkan.
BMPS Propinsi Jawa Barat telah mengajukan Permohonan Eksekutif Review Permendikbud RI No. 60 Tahun 2011. Permohonan tersebut dikirimkan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan tembusan kepada : Presiden, Ketua MA, Ketua Komisi X DPR, dan jajaran instansi yang berkenaan dengan pendidikan di Jawa Barat.
Tanggapan dari Rm. Karel Jande :
MNPK telah mendorong BMPS segara menanggapi Permendikbunas ini. BMPS telah mengirim surat kepada Kemendikbudnas. Tetapi belum ada tanggapan. Andaikata Kemendibudnas tidak memberikan tanggapan atas surat BMPS Pusat dan BMPS Jawa Barat, baru kita melangkah, apa tindakan kita selanjutnya? apakah kita (BMPS) perlu mengadakan seminar untuk PP 60 ini dengan nara sumber utamanya menteri Pendidikan Nasional? Hal ini perlu sikap kompak dari semua sekolah swasta. Untuk kalangan Katolik, tergantung dari pendekatan MPK masing-masing. Apakah MPK sudah menyampaikan hal ini kepada yayasan-yayasan anggotanya? Bila semua anggota yayasan sadar akan hal ini, setelah MNPK dan BMPS bersikap, segera ditindak-lanjuti pada tingkat daerah kerja sama dengan BMPS daerah. Kita perlu merapatkan barisan, masing-masing MPK dengan semua yayasan. Â
Tentang hal ini sebelum kita melangkah lebih jauh, perlu ada klarifikasi lebih lanjut dibantu dari MPK Jakarta. Dan persoalan yang diperlu diklarifikasi dengan dengan pemerintah, apakah arti isitilah pungutan sebenarnya, karna di sekolah swasta dikenal dengan istilah “sumbangan”. Apakah sumbangan masuk dalam kategori Pungutan? MPK Jakarta membantu klarifikasi masalah ini, dengan menanyakan hal ini kepada Dinas pendidikan DKJ. Hasilnya akan diberitahukan kepada MNPK lalu diteruskan ke MPK-MPK (Catatan:Â materi tersebut di atas, 26 Pebruari 2012)
Notulen PERTEMUANÂ tanggal 27 Feb. 2012
Presensi : lembar tersendiri.
Â
I.        Hukum Gerejani: Terkait dengan Katolisitas
Â
Dalam RENSTRA MNPK, katolisitas masuk dalam bidangan pengembangan pendidikan, karena melihatnya dari aspek ciri khas katolik sebagai Roh lembaga pendidikan Katolik. Namun dalam konteks ini, Katolisitas dilihat dari aspek hukum tentang legalitas eksistensi dan keabsahannya sebagai lembaga pendidikan Katolik.
Â
Rm. Karel Jande Pr:
Â
Menyimpulkan hasil pertemua semalam, mengenai sikap MNPK dan MPK terhadap legalitas Yayasan dan Permendibud no.60 Tahun 2012.
Â
Perlu ketegasan dari masing-masing MPK untuk menginventaris, yayasan pendidikan yang menggunakan predikat “Katolik”, apakah sudah atau belum menjadi anggota MPK Keuskupan setempat? Suatu lembaga berhak menggunakan predikat “Katolik” bila ada pengakuan resmi dari uskup setempat. Hal ini penting bagi Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik, apakah yayasan tersebut sudah mendapat pengakuan dari Uskup. Yayasan pendidikan yang sudah diakui oleh Uskup wajib hukumnya menjadi anggota MPK.
Â
Â
Rm Fridho (Palembang) :
Keuskupan Palembang ada 13 yayasan pendidikan katolik yang sudah menjadi anggota MPK, 2Â yayasan belum bergabung dan 1 Yayasan (St. Agatha) yang masih belum diselidiki, apakah mau menjadi yayasan katolik dan mau bergabung dengan MPK Keuskupan Agung Palembang?
Rm.  Pri (Banjarmasin)
Ada beberapa yang belum bergabung!Â
Pak Pardi (Jakarta)
Dlm hukum Kanonik 803 : Sekolah Katolik adalah sekolah yang secara hirarkis diakui oleh Uskup dan di Jakarta, Pengakuan uskup dalam bentuk piagam. Yayasan yang diakui langsung diberikan Piagam Pengakuan (5 – 7 tahun), syarat Pengakuan oleh Uskup: punya AD dan Akte, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, Kepala Sekolah dan Yayasan beragama Katolik, guru TK harus beragama Katolik.
Tanggapan Rm Karel Jande:
Yayasan dan sekolah sekolah katolik harus mengindahkan tiga hal yaitu
1.     Peraturan Perundang-undangan RI di bidang Pendidikankarena yayasan dan sekolah Katolik berada dalam negara RI, ikut berpartisipasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, yang telah diatur dalam UU Sisdiknas No.20 Tahun 2003
2.     Ajaran dan Peraturan Gereja, karena Lembaga Pendidikan katolik merupakan lembaga karya kerasulan Gereja. Ini konksuensi dari penggunaan istilah “Katolik”.
3.     Spiritualitas Pendiri:Lembaga Pendidikan Katolik ada tiga kategori, yaitu milik keuskupan, milik tarekat dan milik awam. Pendiri lembaga Pendidikan Katolik mempunyai idealisme sendiri, yang menjadi spirit, mengapa dia mendirikan sekolah katolik.
Jadi ketiga persyaratan di atas harus dipenuhi oleh sekolah Katolik. Perhatian kita sekarang pada point nomor dua, mengindahkan ajaran dan peraturan gereja. Hal ini sering disebutkan sebagai ciri khas katolik atau katolisitas. Persoalan sekarang, banyak yayasan yang menggunakan “Katolik” atau menggunakan “nama santo-santa” seperti lasimnya dalam Gereja Katolik, tetapi tidak mengungkapan kekatolikan atau pendidikan Katolik. Karena itu penggunaan predikat “katolik” ada persyaratannya, yang paling utama adalah pengakuan resmi antara lain dalam bentuk piagam pengakuan dari uskup setempat.
Pada era 1960-an sampai 1990-an, ada pedoman Katolisitas Yayasan dan Sekolah Katolik yang disusun oleh MPK Jabalambang (Jawa, Bali, Lampung, Palembang). Sayang sekali, belum disosialisasikan secara nasional. MPK Jabalambang sekarang sudah dibubarkan, karena MNPK era Reposisi 2003, pembagian wilayah MNPK pertama per Regio (Sumatera, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Makasar-Amboina-Menado disingkat MAM dan Papua), Kedua per provinsi Gerejani (Keuskupan Agung) : Medan, Palembang, Pontianak, Samarinda, Jakarta, Semarang, Kupang, Ende, Makasar, Merauke).
Konsep baru katolisitas sudah ada, hanya belum dibahas intern dan MNPK; dan disetujui oleh Komisi Pendidikan KWI. Ada dua konsep, yang pertama versi Rm Piet Go Ocarm, dengan perubahannya sesuai dengan perkembangan baru dan konsep berdasarkan Dokumen sekolah Katolik.
Bagi MPK yang berminat untuk mempelajari kedua konsep itu silahkan, pesan, MNPK akan mengirim via email.
II.      RENSTRA MNPK DAN PROGRAM KEGIATANNYA
Pak Hardi (sekretaris 2 MNPK) memaparkan Renstra MNPK dan Program kegiatan MNPK 2012. Tahun 2012 ini bertemakan Konsolidasi dan Penguatan sekaligus, karena seharusnya konsolidasi ini terjadi di th 2011 tetapi belum berjalan, sehingga harus dikejar pd th 2012 ini.
Prioritas yang dibuat dalam renstra ini adalah Pendidikan, Hukum & Organisasi, Kaderisasi, Keuangan / Manajemen / Administrasi. Hal ini secara detail dipaparkan dalam bentuk powerpoint. Juga dipaparkan schedul kegiatan ke 4 bidang itu dalam tahun 2012 ini.
Komentar Peserta:
1.       Pak Gerardus (Maumere)MNPK harus ada kepastian ttg persyaratan jadi anggota MPK dan hubungan MPK koordinasi dengan uskup masing-masing. Bagaimana dengan yayasan perwakilan yang ada di Keuskupan, sedangkan pusatnya ada di keuskupan lain. Apakah Yayasan perwakilan tersebut wajib bergabung, menjadi anggota MPK Kesukupan setempat?
2.       Rm. Pri CM (Banjarmasin): MNPK sudah buat Renstra yang jelas, ini sebagai indikator MPK untuk bergerak & melangkah . Maka perlu adanya tambahan untuk tim Monitor dan Evaluasi.
3.       Sr. Marietta (Bogor):Program MNPK perlu didukung oleh keuangan MNPK yang kuat karena semua program didukung finance.
4.       Rm. Agus Pr (Ambon) Sudah membuat Rencana kerja dari bawah dengan temen2   Regio Sulawesi.
5.       Rm. Alex Lethe (Makasar)Perlu koordinasi lebih baik antara MNPK dan MPK terutama dalam program kerja.
6.       Sr. Yulia Adm, (Purwokerto)Peran MNPK itu tampak, perlu adanya kerjasama dengan pemerintah .
7.       Rm. Fridho (Palembang) :Adanya hubungan harmonis MNPK dan MPK, sejauh mana guna pemetaan yang sudah dibuat di Cipanas, Program bagus namun perlu ditindaklanjuti lebih jauh.
Â
Tanggapan Rm Karel Jande tentang Yayasan Anggota MPK:
-
setiap Yayasan Pendidikan Katolik yang diakui oleh Uskup wajib menjadi anggota MPK
-
Persyaratan lengkap menjadi anggota MPK akan dijabrakan dalam pedoman Katolisitas
-
Yayasan Pendidikan Katolik walaupun hanya perwakilan di keuskupan setempat dan pusatnya ada di tempat lain, maka hukumnya wajib ikut bergabung dengan MPK Keuskupan setempat karena hal ini berkaitan dengan otoritas reksa pastoral Gereja setempat, setiap keuskupan otonom. Lembaga Pendidikan Katolik (yayasan dan sekolah) merupakan perwujudkan Gereja, baik Gereja universal maupun Gereja Lokal.
-
Keuskupan yang memiliki hanya satu pemilik yayasan (misalnya milik keuskupan) langsung menjadi anggota MNPK dan pengurus yayasannya sekaligus menjadi pengurus MPK Keuskupan.
Â
III.    MNPK Membuat Progam Data base.Â
Yayasan dan Sekolah Katolik perlu direvitalasi dan MPK perlu pemetaan keadaan yayasan dan sekolah katolik di MPK Keuskupan masing-masing.Â
Data base perlu angka real, berapa jumlah yayasan dan sekolah dalam MPK Keuskupan. Mohon semua MPK bisa mendata dengan akurat. semua MPK jangan takut untuk melangkah dan menjalankan programnya karena MNPK akan mendukung penuh dalam hal apapun (SDM, System dsb).
IV.   Keuangan MNPK
Kondisi keuangan MNPK akan dilaporkan oleh Bendahara MNPK. Untuk memenuhi kebutuhan finansial, selain bendahara, ada Tim Usaha Dana Pendidikan untuk MNPK yang disingkat menjadi TUDAPEN MNPK. Anggota TUDAPEN antara lain : Ibu Veronica Sudarto, Sr. Maria Goreti OSU, Sr. Elsa Marjudah CB, Ibu Yosephine Samiarti, Ibu Veronica Tri Hartini, dsb)
Laporan Keuangan sampai Desember 2011 (bu Sherly dan bu Bonita)
Total Pemasukan             Rp        270.000.000
Total Pengeluaran            Rp         94.900.538 (sejak Okt 2010 sampai sekarang)
V. DISKUSI MPK PROVINSI GEREJANI
A. AGENDA PERTEMUAN PER MPK PROVINSIÂ GEREJANI:
1.     Apa yang akan dilakukan setelah kembali dari pertemuan ini dan setelah mendengar presentasi tentang RENSTRA MNPK?
2.     Sistem Organisasi MNPK dan MPK macam apa yang mau dilakukan, apa tolok ukurnya?
3.     Bagaimana Pemberdayaan MPK Provinsi Gerejani?
4.     Pedoman Katolisitas Lembaga Pendidikan Katolik (Yayasan dan Sekolah), bagaimana pandangan anda, apa saja butir-butir katolisitas itu?
5.     Bagaimana Pandangan anda tentang Sekolah Katolik yang unggul, yang ada di setiap MPK, apa kriterianya? Sekolah Katolik yang unggul perlu dijaga, dipertahankan, didukung dan dipromosikan, sebagai citra sekolah katolik yang siap memasuki era globlisasi!
6.     Bagaimana pendapat anda mengenai usia pensiun terkait dengan sertifikasi?
Â
B. HASIL DISKUSI MPK PROVINSI GEREJANI:
Â
1.   Propinsi Gerejani JAKARTA (K.A.Jakarta, Bandung dan Bogor)
              Â
1.1.     Pemberdayaan Provinsi Grejani
Rencana pertemuan :
1.1.1.Tempat – MPK Jakarta PK. 10.00 Kamis 15 Maret 2012
1.1.2Â Â Peserta : Â Ketua, Sekretaris dan Bendahara (Kecuali ditambah )
1.1.3Â Â Agenda-Meningkatkan Koordinasi –Provinsi Gerejani Jkt/Bogor/Bandung.
         Sharing Masing-masing MPK ( Jakarta Bogor Bandung)
1.1.4  Biaya      - MPK-KAJ
1.1.5Â Â Yang Mengundang : Koordinator Provinsi Gerejani
1.2.     Kriteria Sekolah Unggulan -Katolik
1.2.1Â Â Disiplin
1.2.2Â Â Karakter/Katolisitas
1.2.3  Inovasi Dalam Pembelajaran
1.2.4 Â Punya kerjasama (jejaring)Â dengan Lembaga Pendidikan Luar
         ( misalnya : Singapura, Australia, AS, Manila dll)
1.2.5Â Â Nilai Akademi Tinggi
1.2.6Â Â Pendampingan Pribadi (Personal)
1.3.     Sertifikasi Guru dikaitkan dengan batas Usia 60
1.3.1  Masalah ini berkaitan dengan batas usai pensiun dari 56 menjaadi 60
1.3.2Â Â Pada dasarnya hal ini menyangkut kemampuan masing-masing LPK
1.3.3Â Â Akan dibahas dalam pertemuan Koordinasi bln Maret 2012
1.4Â Â Â Â Â Pedoman Ciri Khas Katolisitas LPK
(Belum di bahas)
1.5Â Â Â Â Â Sistem Pengorganisasian
(Belum dibahas)
Â
2.   Propinsi Gerejani Semarang (K.ASemarang, Purwokerto, Surabaya dan Malang):
2.1.      PP 60 tentang larangan pungutan bersama BMPS (Malang, Pak Endik, Blimbing)
2.2.      PP 55 th 2007 tentang pengajaran Agama : Lihat surat rekomendasi dari bapak Uskup dan dari Bimas Katolik.
2.3.      Kurikulum : Retret para Kasek se Keuskupan. Pramuka ?
2.4.      MPK membuat kalender pendidikan sendiri.
2.5.      Alternatif tempat Rakernas diusulkan di pulau Jawa saja.
Â
3.   Propinsi Gerejani Ende (K.A. Ende, Ruteng, Larantuka, Maumere)
3.1.      Pertemuan 4 MPK di Ende dalam waktu dekat untuk
         memastikan kegiatan yang akan dilaksanakan bersama.
3.2.      Penyelesaian tunggakan database yayasan dan sekolah dari masing-masing MPK.
3.3.         Masalah Tenaga Guru PNS pada sekolah-sekolah Katolik akibat Keppres 42/2002. Mutasi guru PNS tanpa sepengetahuan Yayasan.
3.4.         Mengharapkan kehadiran MNPK untuk mensosialisasikan bidang hukum dan organisasi kepada Yayasan-yayasan Pendidikan, yang waktunya akan disampaikan kemudian.
3.5.   Mengharapkan kontribusi Kesuskupan Agung Kupang untuk melibatkan MPK/Yayasan-yayasan Pendidikan se NTT.
         Alternatif tempat Rakernas adalah di Makasar.
         Pengurus MNPK wakil dari Propinsi Gerejawi Ende adalah
         Romo Aster Lado, pr Kota Yapersukna Nagekeo Mbay Danga Flores NTT HP: 081339489092
3.6.   Kesulitan keuangan karena iuran tidak pasti dan kurang lancar dari yayasan pada MPK.
Â
4.   Propinsi Gerejani Palembang (K.A Palembang, Tanjungkarang dan Pangkalpinang) Rm Fridho Mulyo SCJ dan Victor Narindra
4.1.      Koordinasi, komunikasi, konsolidasi MPK Prop. Gerejani Palembang-Tanjungkarang dan Pangkalpinang.
4.2.      Memantapkan dan mensosialisasikan Pedoman Katolisitas Sekolah Katolik
4.3.      Memberdayakan sekolah Katolik unggulan untuk menjadi RSBI . Untuk itu perlu diinventarisasikan terlebih dahulu untuk kemudian dibangun jejaring, konsolidasi, komunikasi dan koordinasi misalnya dalam pertemuan OSIS (Program MNPK)
4.4.      Membantu guru yang sudah saatnya sertifikasi, tetapi sudah mau pensiun dari LPK padahal dia sangat potensial. Diusahakan agar dia tetap bisa mendapatkan sertifikasi.
4.5.      Rambu-rambu/kebijakan Gereja/MNPK berkaitan dengan penggunaan dana bos dan yang lain dari pemerintah.
4.6.      Legalitas guru dan karyawan sekolah Katolik.
4.7.      Program MPK Kapal sejajar dengan program MNPK.
Â
5. Propinsi Gerejani Pontianak (K.A Pontianak– Sintang – Ketapang- Sanggau) -Sr. Lidya, KFS, Rm Ewaldus dan Sr. Adriana OSA
5.1.  Problem-problem yang dihadapi :
5.1.1.  MPK belum pernah mengadakan pertemuan setelah Rakernas di Cipanas Ketua MPK Pontianak yang sekaligus koordinator MPK Propinsi Gerejawi Pontianak tidak aktif/pindah tugas.
5.1.2.  MPK Sanggau tidak ada/tidak aktif.
5.1.3.  Legalitas Yayasan: masih ada yang belum diurus. (perlu pendataan dan tindak lanjut. Misalnya : Pontianak ada 16 yayasan, baru 1 yang sudah. Ketapang ada 3 yayasan. Legalitas sudah, tetapi data belum terkumpul. Sintang ada 2 yayasan yang sedang diurus legalitasnya.
5.1.4.  Kepengurusan MPK di Pontianak, Sintang dan Ketapang ada, tetapi akan ada penggantian.
5.1.5.Program MPK (sesuai dengan renstra MNPK 2010-2013 dengan 4 pilar/bidangnnya ada, tetapi belum sistematis.
5.1.6.                                                                                                                                    Diusulkan pada tahun 2012 ada pertemuan dengan konsolidasi dengan Komdik dan IIPK.
5.2.   Issue-issue lokal :
5.2.1.  Sertifikasi bukan untuk kualitas, ideal. Sertifikasi bagi guru yayasan yang hampir pensiun dibuat ekstern SK formal (diperpanjang), tetapi secara intern dihonorkan atau kontrak.
5.2.2.  Sekolah Katolik di tengah umat/masyarakat dikatakan:
         Mahal,bersaing tidak sehat, saling menonjolkan ego masing-masing.
         Di lain pihak diterima, didukung dan dipercaya kualitas pendidikannya serta untuk menjaga iman Katolik.
         Beberapa contoh sekolah yang diunggulkan : Sekolah Petrus Paulus milik CB, Amkur di Pontianak, Sekolah PL milik bruder FIC di Ketapang dan SMA di Sintang.
5.3.   Rakernas 2012di Timika tidak masalah, tetapi mohon diinformasikan biasa yang harus ditanggung MPK jauh-jauh sebelumnya karena tingginya biaya. Alernatif tempat lain di Surabya atau Malang.
5.4.   Tawaran program berdasarkan 4 pilar pada prinsipnya baik dan relevan. Sebaiknya ada prioritas berdasarkan problem yang mendesak untuk diselesaikan misalnya Legalitas dan Permendikbud 60/2012.
Â
6.   Propinsi Gerejani Samarinda (K.A.Samarinda, Palangkaraya, Banjarmasin dan Tanjungselor)
6.1.  Pemberdayaan Propinsi Gerejani Samarinda
6.1.1. Membangun komunikasi yang lancar antar MPK
6.1.2. Menguatkan Lembaga dengan melengkapi Kepengurusan MPK.
6.1.3. Menguatkan Lembaga dengan pengadaan fulltimer untuk kesekretariatan sebagai tenaga tetap yang memperhatikan dan melaksanakan tugas harian keadministrasian.
6.2.  Mengarahkan Sekolah Katolik sekurang-kurangnya kualitasnya selevel RSBI
6.2.1. Mensosialisasikan Sekolah Katolik yang sudah se level RSBI lewat poster, leaflet atau Berita MPK
6.2.2. Meng-upgrade level sekolah yang diharapkan dapat se level RSBI lewat kerjasama dengan sekolah dan yayasan.
6.3.  Usul kepada MNPK untuk mensurvey keperluan bersama untuk dijadikan program bersama di samping masing-masing MPK mempunyai program sendiri, antar lain dalam hal penanaman nilai atau administrasi.
Â
7.   PROPINSI GERENI KEUSKUPAN KUPANG (K.A.Kupang, Atambua, Wetebula dan Bali) - Vinsen Loe / anggota MPK Atambua
7.1Â Â Â Â Data Base akan diserahkan pada bulan April 2012
7.2Â Â Â Â Iuran dilunasi pada bulan April 2012
7.3    Rapat  internal MPK Propinsi Gerejani Keuskupan Agung Kupang ( 3 hari ) bulan Mei 2012
7.4    Menetukan Koordinator Kupang – MPK Kupang, kontak person : Rm. Rudy
Â
8.   PROPINSI GEREJANI KEUSKUPANG AGUNG MAKASAR
(K.A.Makasar, Amboina dan Menado)
8.1.  Tentang pelajaran agama : Masih sangat kasuistik dan harus diselesaikan di tingkat daerah: Bupati, diknas DikbudTentang sertifikasi guru : dikembalikan kepada yayasan-yayasan masing-masing dengan pertimbangan prestasi dan karakternya baik atau tidak.
8.2.  Usulan kepada MNPK agar menginformasikan Tim Ahli untuk mendampingi program penguatan di tingkat Regio .
8.3.  Menyikapi peraturan pendidikan (Permen 60. tahun 2011 ; PP 55 tahun 2007) : mohon penjelasan ttg permen-permen tsb
8.4.  Usulan tempat alternatif Rakernas : Bandung.
8.5.  Program Kerja MAM :
Â
PROGRAM KERJA MPK REGIO MAKASSAR – AMBOINA – MANADO PERIODE 2011 – 2013Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â
|
Bidang
|
Program
|
Kegiatan
|
Peserta/sasaran
|
Penanggung jawab
|
Waktu
|
Tempat
|
|
Pendidikan
|
1.      TOT PPR
|
Sosialisasi
|
Wakasek / Guru Bidang Kurikulum masing-masing jenjang.
Â
|
MPK Regio
|
15-17 Maret  2012
|
Makassar
|
|
Â
|
2.     ICT
Â
|
-Â Pemanfaatan
   ICT
- Profesionalisme   Guru
Â
|
Guru-guru
|
MPKÂ Keuskupan
|
Januari – Agustus 2012
|
Masing-masing MPK Keuskupan
|
|
Â
|
3.     Peningkatan Spiritua
litas
Â
Â
Â
Â
SDM
|
-Â Â Â Rekoleksi bersama MPK per jenjang
Â
-Â Â Â Diklat Leadership Kasek dan CaKasek
Â
-Â Â Â Mendorong LPK memperhatikan kesra Pegawai.
Â
Â
Â
Â
|
Guru dan Pegawai
Â
Â
Guru dan Kepsek,
Â
Â
Guru, Pegawai dan Kepsek,
Â
|
MPK Keuskupan
Â
Â
MPK Regio
Â
Â
MPK Keuskupan
|
November 2011 – Agustus 2012
Â
22-25 Agustus 2012
Â
Â
November 2011 – Desember 2013
|
Masing-masing MPK Keuskupan
Â
Manado
Â
Â
Masing-masing MPK Keuskupan
|
|
Â
|
4.    Katolisitas
|
-Â Â Â Mendesak Penyusunan dan Penerbitan serta Sosialisasi buku Pedoman Katolisitas Sekolah Katolik
Â
|
Guru, Pegawai dan Kepsek,
|
MPK Regio
|
Disesuaikan dengan penerbitan buku pedoman.
|
Masing-masing MPK Keuskupan
|
|
Â
Hukum
|
Â
1.     Eksistensi
|
-Â Â Â Â
-Â Â Â Mendorong dan Mendaftarkan yayasan yg belum terdaftar di Departemen Hukum & Ham sesuai UU tentang Yayasan
Â
|
Â
Yayasan
|
Â
Ketua MPK Regio dan Keuskupan
|
Â
November 2011 – Desember 2013
|
Â
Masing-masing MPK Keuskupan
|
|
Â
|
2.     Aktualisa si spirituali sasi
|
-Â Â Â Mendorong masing-masing LPK mengatulisasi spiritualitas pendiri dalam kebijakan pendidikan sesuai tuntutan jaman.
Â
-Â Â Â Memperdalam ajaran-ajaran dan peraturan-peraturan gereja di bidang pendidikan.
Â
-Â Â Â MPK regio mendesak MPK/LPK keuskupan mendalami peraturan gereja tentang pendidikan.
Â
Â
Â
|
Masing-masing LPK
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Guru, Pegawai, dan yayasan.
Â
Â
Â
Â
Guru, Pegawai, dan yayasan.
Â
|
MPK Keuskupan
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
MPK / Regio Keuskupan
Â
Â
Â
Â
MPK / Regio KeuskupanÂ
|
Nov ember 2011 – Desember 2013
Â
Â
Â
Â
Â
Â
November 2011 – Desember 2013
Â
Â
Â
Â
November 2011 – Desember 2013
Â
Â
Â
|
Masing-masing MPK Keuskupan
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Masing-masing MPK Keuskupan
Â
Â
Â
Â
Masing-masing MPK Keuskupan
|
|
Organisasi
|
1.     Pembuatan Visi dan misi MNPK
Â
Â
Â
Â
Â
Â
2.     Menata MPK yang belum tertata
Â
Â
3.     Meningkatkan kuantitas & kualitas jejaring eksternal & internal
Â
|
-Â Â Â Meningkatkan konsolidasi komunikasi dan koordinasi organisasi MPK Regio ke MPK keuskupan.
Â
Â
Â
-   Mendorong MPK keuskupan yang belum aktif”
Â
Â
-Â Â Â Pertemuan dengan uskup
|
MPK Keuskupan
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
MPK Keuskupan
Â
Â
Â
Â
MPK Keuskupan
Â
Â
|
MPK Regio
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
MPK Regio
Â
Â
Â
Â
MPK Keuskupan
Â
|
November 2011 – Desember 2013
Â
Â
Â
Â
Â
Â
November 2011 – Sept ember 2012
Â
Â
Â
November 2011 – September 2012
|
Masing-masing MPK Keuskupan
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Masing-masing MPK Keuskupan
Â
Â
Â
Masing-masing MPK Keuskupan
Â
Â
Â
|
|
Kaderisasi
|
1.     Pramuka
|
-Â Â Â Menjadikan pramuka wadah alternatif.
-   Mendorong yayasan/sekolah dan paroki mendukung keberadaan pramuka.
-Â Â Â Pembentukan KKP (Kelompok Kerja Pramuka)
-Â Â Â Menyelenggara
kan kegiatan camping pramuka tingkat keuskupan
|
Masing-masing LPK/MPK Keuskupan
|
MPK Keuskupan
|
November 2011 – September 2012
|
Masing-masing MPK Keuskupan
|
|
Â
|
2.     OSIS
|
-Â Â Â Menjadikan OSIS wahana kaderisasi
-   Mendorong dan mendukung MPK keuskupan dalam menumbuh kembangkan OSIS di setiap sekolahnya.
Â
|
Masing-masing LPK/MPK Keuskupan
|
MPK Keuskupan
|
November 2011 – September2012
|
Masing-masing MPK Keuskupan
|
|
Â
|
3.     Tenaga potensi
Â
|
Lihat pada point SDM
|
Â
|
Â
|
Â
|
Â
|
|
Administra
si Manaje
men dan Keuangan
|
1.     Adminis
trasi Manajemen
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
2.     Keuangan
|
-Â Â Â Pembuatan dan pemanfaatan database sekolah Katolik.
-Â Â Â Pendidikan dan pelatihan serta penerapan Manajemen pendidikan yang efektif dan terpadu (TQM)
-Â Â Â Pelatihan Bendahara LPK.
|
Masing-masing LPK/MPK
Â
Guru, Kepsek dan yayasan
Â
Â
Â
Â
Â
Bendahara, Adm Keuangan LPK
Â
|
MPK Keuskupan dan Regio
Â
MPK Regio
Â
Â
Â
Â
Â
Â
MPK Regio
|
November 2011 – September 2012
Â
Januari 2013
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Agustus 2013
|
Masing-masing MPK Keuskupan
Â
Ambon
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Makassar
|
                                                          Â
Â
Â
Ditetapkan dalam Rapat Kerja I Regio di Ambon, pada tanggal 14 – 17 Oktober 2011